Informasi

Menjaga Kesucian Tempat Ibadah: Panduan Lengkap Aturan dan Etika Masuk Pura di Bali

placeholder Pengelola 6 June 2026
media/post/berita/241b779f-0a92-4baf-a940-dd7c8ea70d46.webp

Bali selalu berhasil memikat wisatawan dunia melalui keindahan alam dan kekayaan budayanya. Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan Pura, tempat ibadah umat Hindu yang tersebar di seluruh penjuru pulau. Namun, karena tempat-tempat ini merupakan kawasan suci yang aktif digunakan untuk persembahyangan, ada deretan aturan ketat dan tata krama yang wajib dipahami oleh setiap pengunjung.

Bagi Anda yang berencana berwisata ke Bali, memahami etika ini bukan sekadar bentuk kepatuhan, melainkan wujud rasa hormat terhadap adat istiadat masyarakat lokal. Berikut adalah panduan penting aturan masuk Pura di Bali yang harus Anda ketahui:

1. Wajib Mengenakan Pakaian yang Sopan, Kamen, dan Senteng

Kunci utama saat memasuki Pura adalah berpakaian sopan dan tertutup. Wisatawan diwajibkan menggunakan kain tradisional Bali yang disebut Kamen (kain bawahan) dan Senteng (selendang yang diikatkan di pinggang).

  • Kamen melambangkan penghormatan dan menjaga kesopanan tubuh bagian bawah.

  • Senteng diikatkan di pinggang sebagai simbol pengikat niat buruk atau hawa nafsu agar tidak ikut masuk ke area suci.

  • Catatan: Sebagian besar Pura wisata menyediakan atau menyewakan kain ini di dekat loket tiket masuk.

2. Aturan Terkait Cuntaka (Masa Tabu atau Menstruasi)

Dalam dresta (adat-istiadat) Hindu Bali, seseorang yang sedang dalam kondisi cuntaka atau tidak suci secara spiritual dilarang keras memasuki area utama Pura. Hal ini berlaku bagi:

  • Wanita yang sedang datang bulan (menstruasi).

  • Seseorang yang baru saja mengalami kedukaan (ada anggota keluarga inti yang meninggal dunia).

  • Ibu yang baru saja melahirkan.

Aturan ini didasarkan pada konsep menjaga kesucian energi spiritual (kesucian sekala-niskala) di dalam kawasan Pura.

3. Menjaga Ucapan dan Perilaku

Pura adalah tempat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan ketenangan. Oleh karena itu, wisatawan diharapkan menjaga sikap:

  • Hindari berbicara kasar, berteriak, atau bersenda gurau yang berlebihan.

  • Jangan membuang sampah sembarangan di area tempat suci.

  • Patuhi papan petunjuk yang ada, karena ada beberapa area spesifik yang hanya boleh dimasuki oleh umat yang akan bersembahyang (Utama Mandala).

4. Etika Mengambil Foto dan Posisi Tubuh

Mendapatkan foto yang indah tentu menjadi dambaan setiap wisatawan, namun etika tetap nomor satu:

  • Jangan memotret tepat di depan orang yang sedang bersembahyang menggunakan flash, karena dapat mengganggu kekhusyukan mereka.

  • Dilarang keras memanjat bangunan suci (pelinggih) atau berfoto dengan posisi kepala lebih tinggi dari bangunan suci atau pemangku (sulinggih) yang sedang memimpin upacara.

Sumber : traveloka.com dan baliagatour.co.id